SUNGAI PENUH – Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap adat istiadat kembali ditunjukkan masyarakat Luhah Pemangku Rajo. Menjelang pelaksanaan Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh 2026, warga secara gotong royong mendirikan tiang karamentang setinggi sekitar 30 meter yang menjadi salah satu simbol penting dalam rangkaian tradisi adat tersebut.
Sejak pagi hari, para Depati, Ninik Mamak, tokoh adat, orang tua, hingga anak jantan berkumpul di lokasi pendirian karamentang. Dengan penuh semangat, mereka bahu membahu mengangkat dan menegakkan tiang yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa nilai gotong royong masih hidup dan terus diwariskan di tengah masyarakat Luhah Pemangku Rajo.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama

Proses pendirian tiang karamentang bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan tenaga, koordinasi, serta kekompakan dari banyak pihak agar tiang dapat berdiri kokoh dan aman.
Namun, berkat kerja sama seluruh masyarakat, proses tersebut berjalan lancar. Tidak ada perbedaan antara generasi tua dan muda. Semua terlibat aktif demi menyukseskan persiapan Kenduri Sko yang akan digelar dalam waktu dekat.
Kebersamaan yang terlihat selama kegiatan berlangsung mencerminkan eratnya hubungan sosial masyarakat Pemangku Rajo yang hingga kini tetap menjaga nilai-nilai adat warisan leluhur.
Lantunan Sike Menambah Kekhidmatan Suasana

Suasana adat semakin terasa ketika lantunan sike, syair tradisional khas Sungai Penuh dan Kerinci, mulai menggema di lokasi kegiatan.
Alunan sike yang dibawakan secara bergantian menghadirkan nuansa sakral sekaligus membangkitkan semangat masyarakat yang sedang bekerja. Syair-syair yang berisi pesan adat dan petuah leluhur tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat setempat, sike bukan sekadar hiburan. Tradisi lisan ini merupakan bagian penting dari identitas budaya yang selalu hadir dalam berbagai prosesi adat, termasuk Kenduri Sko.
Karamentang Simbol Persatuan dan Marwah Adat

Menurut para tokoh adat, tiang karamentang memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar perlengkapan upacara adat. Karamentang melambangkan kekuatan persatuan, kebersamaan, serta komitmen masyarakat dalam menjaga marwah adat.
“Tiang karamentang ini menjadi lambang kekuatan persatuan masyarakat. Melalui gotong royong seperti inilah nilai-nilai adat terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar salah seorang tokoh adat Pemangku Rajo.
Nilai filosofis tersebut menjadikan proses pendirian karamentang sebagai momen penting yang selalu dinantikan masyarakat setiap kali Kenduri Sko dilaksanakan.
Persiapan Kenduri Sko Terus Dimatangkan

Menjelang pelaksanaan Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh, berbagai persiapan terus dilakukan oleh masyarakat. Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan mereka dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari persiapan adat hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
Masyarakat berharap Kenduri Sko tahun 2026 dapat berlangsung dengan lancar, meriah, dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Sungai Penuh.
Lebih dari sekadar perayaan adat, Kenduri Sko menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan, menjaga identitas budaya, serta memperkenalkan kekayaan tradisi Kerinci dan Sungai Penuh kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
Dengan berdirinya tiang karamentang setinggi 30 meter oleh masyarakat Pemangku Rajo, nilai-nilai adat yang diwariskan oleh leluhur kembali ditegaskan sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat hingga saat ini.






