SUNGAI PENUH – aktifia.com Masyarakat adat 6 Luhah Kota Sungai Penuh tengah bersiap menyambut salah satu agenda budaya terbesar yang menjadi kebanggaan masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh, yaitu Kenduri Sko 6 Luhah Tahun 2026. Perhelatan adat yang dijadwalkan berlangsung pada 4 hingga 5 Juli 2026 ini diperkirakan akan dihadiri ribuan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para perantau yang pulang kampung khusus untuk mengikuti rangkaian acara sakral tersebut.
Kurang lebih satu bulan menjelang pelaksanaan, berbagai persiapan terus dilakukan secara intensif oleh panitia, pemangku adat, serta seluruh lapisan masyarakat. Semangat gotong royong terlihat di setiap sudut kampung, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih terjaga dalam kehidupan masyarakat adat Sungai Penuh.
Kenduri Sko bukan sekadar acara seremonial tahunan, tetapi merupakan warisan budaya yang sarat makna. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, pengukuhan nilai adat, serta momentum memperkuat persatuan masyarakat adat di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Tradisi Adat yang Tetap Lestari
Bagi masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh, Kenduri Sko memiliki kedudukan yang sangat penting. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat adat.
Dalam pelaksanaannya, Kenduri Sko bukan hanya menjadi wadah untuk mempertemukan masyarakat dalam suasana kekeluargaan, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga keberlangsungan adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang sejak ratusan tahun lalu.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, keberadaan Kenduri Sko menjadi bukti bahwa masyarakat Sungai Penuh masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Tahun ini, panitia mengangkat tema “Membudayakan Masyarakat Adat yang Beradab.” Tema tersebut dipilih sebagai bentuk komitmen masyarakat adat dalam menjaga nilai moral, etika, sopan santun, serta kearifan lokal yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Luhah Sungai Penuh.
Melalui tema tersebut, masyarakat berharap generasi muda semakin mengenal dan mencintai adat istiadat yang menjadi identitas daerahnya.
Persiapan Dilakukan Secara Gotong Royong
Menjelang pelaksanaan acara, berbagai elemen masyarakat telah terlibat aktif dalam proses persiapan. Mulai dari dusanak batino, anak batino, anak jantan, hingga para ninik mamak dan pemangku adat turut berperan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi pemandangan yang sangat kental dalam setiap tahapan persiapan. Berbagai kebutuhan acara mulai dipersiapkan, termasuk penataan lokasi kegiatan, penyusunan agenda acara, hingga koordinasi teknis pelaksanaan.
Bagi masyarakat adat, kesuksesan Kenduri Sko bukan hanya menjadi tanggung jawab panitia, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kelancaran kegiatan.
Kebersamaan yang tercipta selama masa persiapan juga menjadi nilai tersendiri yang memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Diawali dengan Ajun Arah
Sebelum memasuki puncak acara Kenduri Sko, masyarakat adat akan terlebih dahulu melaksanakan rangkaian kegiatan pendahuluan yang diawali dengan Ajun Arah pada 21 Juni 2026.
Ajun Arah merupakan salah satu tahapan penting dalam adat masyarakat Sungai Penuh. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian Kenduri Sko sekaligus menjadi wadah musyawarah dan penyampaian berbagai arahan terkait pelaksanaan kegiatan.
Melalui Ajun Arah, para pemangku adat akan menyampaikan berbagai ketentuan, tata cara, dan nilai-nilai yang harus dijunjung selama pelaksanaan Kenduri Sko berlangsung.
Tradisi ini menjadi bagian penting yang menunjukkan bahwa setiap kegiatan adat selalu dilandasi oleh musyawarah dan kesepakatan bersama.
Gelanggang Budaya Akan Kembali Hidup
Setelah pelaksanaan Ajun Arah, masyarakat akan membuka gelanggang yang menjadi pusat berbagai aktivitas budaya selama rangkaian Kenduri Sko berlangsung.
Gelanggang bukan sekadar arena pertunjukan, tetapi menjadi ruang ekspresi budaya yang mempertemukan berbagai unsur kesenian tradisional masyarakat Sungai Penuh.
Di lokasi ini, masyarakat dapat menyaksikan berbagai penampilan budaya yang mencerminkan kekayaan tradisi daerah. Gelanggang juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan untuk menikmati suasana kebersamaan yang penuh nilai budaya.
Setiap tahun, keberadaan gelanggang selalu menjadi salah satu daya tarik utama yang dinantikan masyarakat.
Silat Tradisional Menjadi Daya Tarik Utama

Salah satu agenda yang paling ditunggu dalam rangkaian Kenduri Sko adalah penampilan silat tradisional Sungai Penuh.
Silat bagi masyarakat adat bukan sekadar seni bela diri. Lebih dari itu, silat merupakan simbol penghormatan, kedisiplinan, keberanian, serta pengamalan nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur.
Melalui berbagai gerakan yang ditampilkan, para pesilat akan menunjukkan keindahan seni tradisional yang mengandung filosofi kehidupan masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh.
Setiap gerakan silat memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan etika, tata krama, serta hubungan manusia dengan sesama.
Karena itu, penampilan silat tradisional selalu menjadi salah satu atraksi yang paling diminati oleh masyarakat maupun para perantau yang pulang kampung.
Kenduri Adat Sebagai Rangkaian Sakral

Pada tanggal 4 Juli 2026, masyarakat adat akan melaksanakan Kenduri Adat yang menjadi bagian penting dalam keseluruhan rangkaian Kenduri Sko.
Kenduri Adat merupakan simbol rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas berbagai nikmat dan keberkahan yang telah diberikan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antarsesama masyarakat adat.
Dalam suasana penuh kebersamaan, masyarakat akan berkumpul untuk mengikuti berbagai prosesi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Nilai kekeluargaan, persatuan, dan kebersamaan menjadi inti dari pelaksanaan Kenduri Adat tersebut.
Penobatan Pemangku Adat Menjadi Puncak Acara
Puncak pelaksanaan Kenduri Sko akan berlangsung pada 5 Juli 2026 dengan agenda utama berupa penobatan pemangku adat.
Prosesi ini memiliki makna yang sangat penting karena berkaitan dengan keberlangsungan sistem adat dalam masyarakat.
Melalui penobatan tersebut, para pemangku adat akan menerima amanah untuk menjaga, membina, serta melestarikan nilai-nilai adat di tengah masyarakat.
Prosesi berlangsung secara khidmat dan penuh penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan sejak dahulu.
Bagi masyarakat adat, pemangku adat memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai budaya, mediator dalam kehidupan sosial, serta panutan dalam pelaksanaan adat istiadat.
Karena itu, penobatan pemangku adat selalu menjadi momen yang penuh makna dan sangat dihormati oleh masyarakat.
Ajakan Mengenakan Busana Adat

Untuk menambah semarak pelaksanaan Kenduri Sko, panitia mengajak seluruh masyarakat mengenakan pakaian bernuansa Sunge Pnoh Dahin selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Bagi kaum laki-laki, dianjurkan mengenakan teluk belango yang dipadukan dengan celana panjang, kopiah, serta sarung atau syal.
Sementara itu, kaum perempuan dianjurkan mengenakan baju kurung lengkap dengan kain tehak dan selendang tapau.
Penggunaan pakaian adat bukan hanya untuk memperindah suasana acara, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan identitas masyarakat Sungai Penuh.
Melalui penggunaan busana adat, masyarakat diharapkan dapat menunjukkan rasa bangga terhadap warisan budaya yang dimiliki.
Perantau Bersiap Pulang Kampung
Menjelang pelaksanaan Kenduri Sko, antusiasme juga mulai terlihat dari para perantau asal Sungai Penuh dan Kerinci yang saat ini berada di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.
Banyak perantau telah mulai menyusun jadwal perjalanan untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga besar.
Bagi para perantau, Kenduri Sko bukan sekadar acara adat, tetapi juga menjadi momentum melepas rindu dengan kampung halaman.
Kehadiran para perantau selalu menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan Kenduri Sko. Selain mempererat hubungan kekeluargaan, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan emosional antara masyarakat yang berada di kampung dan di perantauan.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat
Selain memberikan dampak sosial dan budaya, pelaksanaan Kenduri Sko juga diperkirakan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Meningkatnya jumlah pengunjung dan perantau yang pulang kampung akan mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, kuliner, transportasi, hingga jasa penginapan.
Para pelaku UMKM dan usaha lokal pun menyambut baik pelaksanaan Kenduri Sko tahun ini karena dinilai dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Momentum tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai produk lokal sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah.
Harapan untuk Generasi Mendatang

Masyarakat berharap seluruh rangkaian Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh tahun 2026 dapat berjalan dengan aman, tertib, dan sukses.
Lebih dari sekadar sebuah acara adat, Kenduri Sko diharapkan mampu menjadi sarana untuk memperkuat persatuan, menjaga nilai-nilai budaya, serta menanamkan kecintaan terhadap adat pada generasi muda.
Dengan terus dilestarikan dari generasi ke generasi, Kenduri Sko akan tetap menjadi identitas masyarakat Sungai Penuh yang membanggakan sekaligus menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi bagi masa depan.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, Kenduri Sko hadir sebagai pengingat bahwa akar budaya dan adat istiadat adalah fondasi penting yang harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada anak cucu di masa yang akan datang.







